Let's see

Tampilkan postingan dengan label issue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label issue. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

Bijak Berjejaring Kawan

   Era jejaring memang membantu kita dalam banyak hal seperti komunikasi manusia dengan sesamanya. Begitu pula dalam hubungan dengan pacar, suami istri, sahabat dan lain sebagainya. Bayangkan jika dahulu kita harus mengirim surat atau telepon untuk menyampaikan sesuatu. Oke.. oke mungkin tidak dengan surat juga ya, era saya sudah bisa dibilang era sms. Tapi dengan jejaring sosial hanya dalam waktu satu detik bahkan semua informasi bisa sampai kemana pun dan siapa pun. WAW!! the power of social network!!! 
   Lebih-lebih lagi jejaring sosial bahkan mampu menggulingkan pemerintahan (walaah), meski tidak secara langsung. Seperti kasus yang terjadi pada Tunisia dan Libya, hingga berimbas pada pergolakan negara-negara Timur Tengah. Konon, penyebabnya adalah status-status dari twitter. 
   See? bagaimana seekor 'jejaring sosial' yang baru beberapa tahun belakangan hadir di era ini membawa perubahan besar dalam banyak hal. Mungkin ini bisa jadi salah satu alat paling berpengaruh dalam sejarah. Tak sampai disitu, jejaring sosial pun seakan menjadi candu sendiri bagi setiap penikmatnya. Bahkan melebihi semua jenis obat-obatan atau psikotropika yang pernah ada. Parahnya lagi bahkan setiap pecandu terkadang tidak sadar mereka telah kecanduan. 
   Jawab pertanyaan ini... Pernahkan dalam satu hari anda tidak memeriksa akun jejaring sosial anda? saya rasa hampir semua jawabannya tidak. Kecuali anda sedang berada di tempat yang benar-benar tidak ada akses atau fasilitas sama sekali untuk mengakses jejaring sosial ini. Itu pun setelah menemukan kembali si "sinyal" rasa syukur kita terkadang melebihi rasa syukur kita menerima durian gratis tiba-tiba ditengah jalan. hehe...
   Masalahnya disini menurut saya, jejaring-jejaring ini sungguh menjaring. Menjerat kita lebih dalam, kadang hingga mencekik sendi-sendi kehidupan kita (halah). Tapi bener lho! Alasannya begini. Sekarang kita seperti memiliki rumah tanpa dinding atau mungkin berdinding kaca bening. Siapa pun bebas melongok isinya, bebas melihat apa yang kita lakukan. Bebas menelanjangi kita. Kadang parahnya tidak sedikit dari kita yang merasa senang mempertontonkan segala isi 'rumah' kita pada banyak orang.
   Curhat di status, update apa yang kita lakukan setiap detik, saling komen, memamerkan foto liburan, foto bersama pasangan, foto keluarga, bahkan foto pribadi. Mengumbar masalah dalam hubungan, saling caci, bahkan tidak sedikit yang membawa masalah keluarga atau pribadi keruang publik. Miris...
    Padahal jejaring sosial diciptakan untuk mempermudah komunikasi, memperdekat jarak dengan orang-orang  yang jauh, menyampaikan informasi penting, berbagi, hingga lahan bisnis baru. Bukan tempat mengumumkan MASALAH kita pada banyak orang. Apa pun yang kita pos di jejaring sosial artinya akan dilihat bukan hanya satu tapi mungkin seluruh pengguna jejaring itu. Jadi, mengapa kita tidak lebih bijak sedikit dalam memanfaatkan jejaring ini. Kembalikan ia pada fungsinya. 
    Jejaring-jejaring ini hanyalah alat bantu kita untuk mempermudah komunikasi. Bukan alat komunikasi utama! Tatap muka, sentuhan hangat, sapaan halus, kontak mata tetap merupakan penyampaian komunikasi yang menyenangkan. Tidak perlulah 'menegur' seseorang lewat jejaring, atau curhat masalah pribadi habis-habisan di status, mengeluhkan masalah hidup. percaya deh itu hanya akan menjadikan kita terlihat lebih bodoh dimata orang lain.
   Bagi senyum-tebarkan cinta-...(aiiihhh). Itu yang harus kita bagi. Bukan makian, sumpah serapah, kritikan yang tidak membangun. Life was never be so easy as it seems, ngga ada masalah ya ngga hidup. Jadi, Stop complaining! 
    Komunikasi langsung tetap merupakan alat komunikasi terbaik. Kalimat yang tersampaikan dengan jelas, intonasi, mimik, bahasa tubuh dari si penyampai pada si penerima pun tak akan salah diartikan. 
     Saya juga termasuk salah satu pecandu jejaring sosial, tapi setidaknya saya akan belajar lebih wise memanfaatkannya. Jadi, bagaimana dengan anda? :D

Senin, 25 April 2011

Bagaimana Membuat Makan Menjadi Menyenangkan

Nanny's Pavillion unggul pada point nomer 3 dan 6
  Saya tiba-tiba jadi teringat, saya ini orang yang cukup bawel... sangat bawel terkadang. Tapi, itu saya sesuaikan dengan tempat dan kondisi seperti apa yang membuat saya harus mengutarakan isi pikiran dan hati saya lebih (aka bawel). Selain bawel saya juga sangat suka makan, apalagi mencoba berbagai macam tempat makan baru. Nah, dari sini nih saya jadi teringat apa ya yang penting dari sebuah tempat makan. Oke, saya punya urutannya menurut saya, tapi sekali lagi ini menurut saya. Yuk, kita ulas dari yang penting sampai yang penting juga.

1.Rasa makanan. Ini inti dari sebuah tempat makan, yup, makanan yang enak rasanya! Bagaimana pun kondisi suatu tempat kalau rasa makanannya dahsyat sudah barang tentu akan terbayar segala kegundahan (halaah). Jadi saya menempatkan rasa makanan ini jadi yang paling utama.
2. Keramahan dan kesigapan pelayan. Maaf, saya termasuk yang cukup rewel soal ini. Males banget kan, kalau datang ke suatu tempat mau itu bagus atau biasa saja tapi pelayanannya buruk. Restoran kelas kaki lima pelayanannya ngga memuaskan saja saya bisa protes. Apalagi kalau restoran kelas kakap merah kuning ijo, bisa makin dongkol rasanya.
3. Dressing. Penyajian sebuah makanan juga jadi concern saya. Meski makanan itu rasanya kurang atau mungkin harganya miring tapi kalau penyajiannya bagus, rasanya cukup menghibur. Begitu pula sebaliknya meski makan tersebut enak tapi penyajiannya kurang hemmm... Apalagi kalau harganya mahal, penyajiannya buruk, dan rasanya kurang menyenangkan. Tinggalin aja deh...
4. Porsi. Nah ini juga penting nih, tidak perlu berlebih yang penting worth it. Maksudnya pas dengan harga dan rasa tentunya. 
5. Harga. Kalau urusan ini penting nih kalau lagi akhir bulan. hehehe...
6. Kenyamanan tempat. Ini terakhir deh, meskipun tempat yang nyaman bisa jadi penghibur terakhir juga kalau ke 5 hal diatas mengecewakan.

  Yup, itu tadi urutan 'kepentingan' sebuah resto atau tempat makan. Versi saya tentu berbeda dengan Anda, tapi rasanya ke 6 hal tersebut lumrah dalam kriteria penilaian sebuah tempat makan.

Social Network Fever

   Hello dear, demam jejaring sosial rasanya belum angkat kaki dan sepertinya akan semakin berkembang di negara ini. Seperti halnya perkembangan teknologi dan informasi yang sudah-sudah di satu sisi menguntungkan namun juga pasti ada sisi sisi tidak menguntungkannya. Menguntungkan sebab saat ini kita bisa tau sedikit banyak mengenai keadaan hingga pribadi seseorang hanya dari akun jejaring sosialnya. Tapi akhirnya beberapa orang mungkin akan sedikit terganggung dengan keterbukaan yang terlalu. Seperti tak ada lagi privasi dalam hidup. Tapi, itu semua tergantung pada bagaimana kita me-maintain dan memanfaatkan akun-akun jejaring sosial itu dengan bijak.
  Melihat fenomena yang ada belakangan ini saya membuat penggolongan tipe-tipe orang dalam memanfaatkan akun jejaring sosialnya. So, Anda termasuk kah dalam tipe-tipe orang di bawah ini?
- Orang yang menulis status yang menginspirasi: Biasanya orang-orang tipe ini hobi mengutip kata-kata bijak dari tokoh, film, hingga lagu.
-Orang yang menulis status-status humor: Isi status orang-orang ini selalu berhasil mengocok perut, ada saja ide-ide liar mereka yang sederhana namun jenaka.
- Si Hobi curhat: Ini yang kadang annoying, mereka biasanya senang sekali meng-update perkembangan permasalahan mereka. Sampai-sampai seluruh dunia tahu masalah apa saja yang sedang dia hadapi.
- Miss Update: Orang-orang tipe ini  hobi sekali  meng-update hampir setiap kegiatan mereka. Jangan kan jalan-jalan keluar negeri, ada cabe nyelip di gigi aja mereka ngga lupa buat ng-update.
-Sumpah serapah: Entah bagaimana, orang-orang ini senang sekali mengeluarkan sumpah serapah. Mulai dari kata-kata makian hingga yang nyerempet daerah kemaluan. 
- Chit Chat: Nah, nah ini ada satu lagi yang menjadikan status sebagai ajang chit chat. Cirinya biasanya kalau di twitter timeline mereka penuh dengan retweet-an yang isinya komentar mengenai sebuah tweet. Atau status tertentu di  facebook yang komentarnya malah jauh dari isi status. Haduh, kalau yang seperti ini kadang membuat saya ingin teriak.."Woy!! pada bisa sms...ym...or bbm an aja kaaannnn!!!bikin penuh timeline gw hellloooowww!!!"
   Nah, itu tadi deh beberapa jenis orang dan tipe-tipe status mereka di jejaring sosial versi saya. Jejaring sosial memang membuat komunikasi kita dengan orang-orang menjadi lebih mudah. Bahkan rasanya memiliki akun jejaring sosial di zaman sekarang ini sudah merupakan kewajiban, dan bisa disamakan dengan memiliki nomer telepon.
  Tapi, dengan begitu kita juga harus lebih bijak dalam mem-posting apa pun di jejaring tersebut. Karena eh karena begitu kita mem-posting resikonya adalah semua orang bisa tahu apa yang terjadi dan apa yang kita lakukan. Jadi lebih bijaklah dalam memanfaatkan jejaring sosial.

Jumat, 11 Maret 2011

Mengapa Charles Lebih Mencintai Camilla? (III)

   Bagaimana dengan Charles? Baru tahun 2005 ia melangsungkan pernikahannya dengan Camilla. Salah satu sumber menyebutkan 30 tahun kisah cerita mereka akhirnya berakhir dengan pernikahan. So, bisakah kita bayangkan kisah cinta itu berlangsung selama 30 tahun sementara pernikahan Charles dan Diana saja hanya berlangsung 15 tahun.
    Selama ini banyak yang menetang pernikahan Charles dengan Camilla. Terlebih rakyat Inggris yang begitu mencintai sosok Diana. Memang kehadiran Camilla di tengah kehidupan Charles dan Diana membuat geram banyak orang yang melihat. Bagaimana tidak Camilla seakan tidak pernah lepas membayangi kehidupan rumah tangga Diana. Bahkan Diana pernah berkata bahwa ia seperti menjalani kehidupan rumah tangga bertiga.
   Sedikit usut punya usut mengenai Camilla, ternyata Camilla merupakan cucu buyut dari Alice Keppel. Alice Keppel ini adalah perempuan selingkuhan Raja Edward VII, kakek canggah Pangeran Charles. Suatu ketika Camilla pernah menyampaikan ini sebagai sebuah lelucon pad Charles. Bahwa bagaimana kisah mereka seperti mengulang kisah buyut mereka.
   Saat ini Camilla telah menikah dengan Charles, tak ada lagi yang menghalangi cinta mereka berdua. Meski perayaan pernikahan mereka sudah dalam usia yang tidak muda lagi. Meski tak semegah pernikahannya Charles dengan Diana, hanya saja jela terlihat di muka Sang Prince of Wales kebahagian atas pernikahan tersebut. Ibu dan kedua anak hasil pernikahannya dengan Diana pun telah merestui.
   Pertanyaan yang terus terlintas di kepala saya adalah mengapa Charles begitu mencintai dan begitu 'setia' dengan Camila? Padahal seperti kita tahu, dari segi fisik saja jelas Diana lebih cantik dan muda kala mereka menikah. Kedua, dari segi attitude Diana begitu humble dan bersahaja. Mengapa ia masih saja mencintai Camilla padahal sudah ada Diana yang terlihat begitu sempurna dihadapannya.
   15 tahun seharusnya bukan waktu yang sebentar untuk bisa membuat ia berpaling dan menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Diana. Ditambah dari rahim Diana telah lahir dua pangeran tampan sebagai penerus tahta.William Arthur Philip Louis dan Henry Charles Albert David.
  Banyak hal bisa diambil dari kerumitan kisah ini. Bahwa sesuatu yang terlihat indah (kehidupan Diana) belum tentu seindah kenyataannya. Hanya mereka yang benar-benar menjalani yang tahu. Sikap Diana juga bisa diteladani, meski ia mengalami tekanan yang begitu luar biasa, namun masih bisa menampakkan wajah tanpa beban dan berbagi cinta pada orang-orang yang membutuhkan.
    Lalu bagaimana bisa cinta Charles pada Camilla tidak luruh meski ia telah bertemu dan menikah dengan seorang gadis secantik dan sehangat Diana?

Mengapa Charles Lebih Mencintai Camilla? (II)

   Tahun 1982, Diana dengan berbalut gaun putih indah bersanding dengan Prince of Wales. Sayang apa yang terlihat indah bagi banyak orang tak semanis apa yang dialami Diana sesungguhnya. Setelah tercium media ia menjalin hubungan dengan Sang Putra Mahkota, hidup Diana selalu menjadi sorotan publik. Belum lagi kehidupan dan aturan istana yang akan dihadapinya, dan terakhir yang juga sangat pahit bagi Diana adalah menyadari bahwa calon suaminya masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya Camilla.
   Kecurigaan Diana bukan tanpa alasan. Dari sebuah sumber menceritakan kala itu Diana  bingung mengapa setiap isi pembicaraannya bersama Charles selalu diketahui Camilla. Dan yang paling menohok baginya, saat satu hari sebelum hari pernikahannya ia menemukan gelang rantai emas hadiah yang disiapkan Charles untuk Camilla.
   Jika pernikahan mereka bagai dongeng bagi sebagian rakyat yang menyaksikan, hal tersebut berbanding 180 derajat dari apa yang Diana rasakan. Ia harus rela menikahi pria yang tidak mencintainya, dan menikahinya hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai putra mahkota.
   Meski bebagai usaha dilakukan Diana untuk membuat suaminya mencintainya, hal tersebut seperti sia-sia. Bahkan dikabarkan Sang Putri sempat terkena bulimia dan anorexia nervosa untuk membuat Charles mencintainya. Namun, itu semua bagai angin lalu saja bagi Charles.
   Akhirnya Diana yang polos dan lugu pun mulai matang, ia mulai tahu cara mengatasi masalah tersebut. Ia menyibukkan diri pada berbagai kegiatan kemanusiaan. Seperti, ia tidak segan-segan memeluk penderita Aids saat melakukan kunjungan dan berbagai kegiatan mulia lainnya. Itu semua ia lakukan untuk membagi cinta dan mendapat cintai dari orang-orang yang ia temui. 
  Gaung namanya sebagai sosok putri yang sangat hangat dan bersahaja membekas dihati banyak orang, tak hanya rakyat Inggris. Tahun 1996 akhirnya Diana resmi bercerai dengan Pangeran Charles. Pernikahan yang telah berlangsung selama 15 tahun itu pun akhirnya berakhir.
   Setelah sempat menjalin hubungan dengan beberapa pria Diana akhirnya takluk pada satu nama Dodi Al Fayed. Anak Mohamed Al Fayed pemilik department store Harrods dan Hotel Ritz-Paris. Barulah pada hubungannya kali ini Diana merasakan dicintai dan mencintai seseorang. Namun sayangnya, kisah cinta mereka harus berakhir tragis. Keduanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat berusaha menghindar dari kejaran paparazi.
  Jika pada pernikahannya 750 ribu orang menyaksikannya, pada saat kematian lebih dari 3 juta orang mengantar kepergiannya. Sang putri yang terlihat selalu penuh senyum dan selalu berbagi pada sesama ini meninggal pada usia 36 tahun, bersama sang kekasih yang dicintai dan mencintainya...

Mengapa Charles Lebih Mencintai Camilla? (I)

    Huff, itu reaksi pertama saya saat selesai membaca berbagai kisah kehidupan percintaan Diana-Charles-Camilla. Kenapa saya begitu tertarik dengan masalah ini? Awalnya saya masih cukup penasaran dengan kisah-kisah dibalik Raja-raja Inggris terdahulu. Seperti pagi ini saya punya sedikit "teori konspirasi" mengenai kematian Lady Diana.
   Begini teorinya, jika dahulu pangeran Edward VIII turun dari tahtanya karena ingin menikahi Wallis Simpson janda asal Amerika. Lalu bagaimana dengan nasib Pangeran Charles? Ia yang merupakan putra mahkota Inggris akhirnya bercerai dengan Lady Diana. Padahal seperti kita tahu seorang raja Inggris, merupakan pemimpin tertinggi agama pula di sana. Sementara Katholik Anglikan yang dianut Inggris "mengharamkan" perceraian.
   Kecurigaan muncul ketika tepat setahun setelah perceraiannya dengan Pangeran Charles, Lady Diana meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil bersama kekasihnya Dody Al Fayed. Konon dari cerita yang saya dengar, pada saat terjadi kecelakaan tersebut Lady Diana seharusnya masih bisa diselamatkan. Tapi entah, mungkin memang sudah jalannya Sang Putri meninggal.
   Akhirnya hari ini saya googling mengenai kisah Charles dan Camilla, serta bagaimana seorang Diana bisa menjadi istri Charles?
   Kisah asmara Charles dan Camilla memang sudah lebih dulu terjalin dibandingkan dengan kisahnya dengan Diana. Bahkan mungkin Charles tidak pernah mencintai Diana seperti ia mencintai Camilla. Lalu mengapa ia menikahi Diana bukan Camilla? Tidak ada sumber resmi yang menjelaskan mengapa ini terjadi. Tapi menurut saya (disarikan dari beberapa sumber) hal ini karena suatu ketika Charles mendapat tugas dari kerajaan (lupa untuk apanya, yang pasti keluar Inggris untuk beberapa waktu) dan setahun setelah kepergian Charles, Camilla menikah dengan Andrew Parker Bowles tahun 1973. Mungkin kala itu Camilla sudah terlanjur dinikahkan dengan Andrew .
   Sembilan tahun setelah Camilla menikah, Charles akhirnya melangsungkan pernikahan dengan Lady Diana (pada tahun 1982). Pernikahan tersebut menjadi pernikahan terbesar dan termegah abad itu. Selama ini kita tahu Diana adalah seorang guru TK, padahal jika dilihat latar belakangnya Diana bukanlah gadis sembarangan.

    Terlahir sebagai The Honorable Diana Frances Spencer, di suatu sore 1 Juli 1961, putri ketiga, anak keempat dari Viscount dan Viscountess Althorp ini "jatuh" ke dunia dengan berat 3,5 kg. Meski diakui secara fisik ia amat sempurna, Diana adalah kekecewaan. Orang tuanya mengharapkan anak laki-laki sebagai penerus keturunan.  Cikal-bakal kekayaan keluarga Spencer berasal dari abad XV, ketika nenek moyang Diana termasuk salah satu pedagang domba terkaya di Eropa.
   Dengan kekayaan itu, mereka memperoleh gelar "Earl" dari Raja Charles I (1600 - 1649), masa kehidupan pujangga Shakespeare. Althorp House pun dibangun di Northamptonshire. 
    Turun-temurun anggota keluarga Spencer melayani raja dan ratu Inggris. Mereka masih terkait persaudaraan dengan Raja Charles II dan ... tujuh presiden AS, termasuk Franklin D. Roosevelt, salah satu pahlawan PD II. Bahkan masih ada hubungan dengan gembong Mafia Al Capone dan aktor beken AS zaman '50-an, Humphrey Bogar


   So, Diana bukanlah gadis biasa. Namun, diceritakan sejak kecil Diana sudah biasa merasa sendiri karena kesibukan ayahnya dan perceraian kedua orangtuanya saat ia masih kecil. Akan tetapi didikan dari keluarganya tetap menjadikan Diana anak yang sopan dan berkarakter. Sejak kecil ia sudah terlihat sangat senang membantu dan membagi kasih sayang pada orang lain.
  Bahkan ia rela menjalani hidup mandiri dan bekerja mulai dari jadi pengasuh, pembantu kakaknya (Lady Sarah Spencer) hingga menjadi guru taman kanak-kanak. Karena merasa sepi selama masa remajanya (akibat keluarga yang kurang hangat), menjadikan Diana begitu peduli dengan kaum-kaum yang terpinggirkan. Ia mencari cinta kasih dan kebahagian dengan berbagi bersama mereka...

Kamis, 10 Maret 2011

Dibalik Tayangan Si Kecil

   Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa... Po... Teletubbies... Teletubbies..
   Masih ingat tidak sama penggalan lagu di atas? Yup, itu merupakan penggalan lagu dari serial anak-anak Teletubbies yang tayang sekitar tahun 1997-2001 lalu. Teletubbies ini ditayangkan setiap pagi (saya lupa jam berapa tepatnya) di Indosiar kalau tidak salah. Pada masa jayanya serial tv ini termasuk favorit bagi anak-anak. Saya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana sepupu saya yang masih kecil kala itu sangat senang jika kami di rumah memutar Teletubbies. Bahkan kami punya beberapa VCDnya dan itu selalu diputar setiap hari.
   Television in the tummy of the babies disingkat Teletubbies adalah film yang menampilkan empat tokoh boneka gendut dan lucu bernama Tinky-Winky (berwarna ungu dengan bentuk segitiga di kepalanya.), Dipsy (berwarna hijau dengan bentuk garis lurus di atas kepalanya), Laa-Laa (berwarna kuning dengan bentuk spiral di atas kepalanya.), dan Po (berwarna merah ia memiliki bentuk lingkaran di kepalanya).
   Sebenarnya keinginan saya mengulas soal Teletubbies ini karena, suatu ketika saya menemukan hal lucu pada salah satu jenis mood di aplikasi My Mood, Facebook (aplikasi yang bisa menampilkan status disertai gambar icon dengan berbagai mood). Di sana tertulis; GITA FEELS LIKE A TELETUBBIE 
   Menurut saya ini sangat lucu, apa coba maksudnya merasa seperti boneka-boneka tubby ini. Akhirnya rasa penasaran membuat saya meluangkan waktu kerja saya hari itu untuk googling mengenai Si Teletubbies ini. Ternyata eh ternyata source yang banyak di tampilkan berkaitan dengan Teletubbies adalah isu homoseksual dibalik tayangan anak-anak tersebut. Huff!!! 
   Memang ini bukan hal yang baru saya dengar, tapi baru saya benar-benar niatin googling hari itu. Menurut beberapa sumber yang saya baca menjelaskan bahwa, tokoh Tinky-Winky yang berwarna ungu inilah Sang Ikon Homoseksual. Mengapa? karena tokoh berwarna ungu ini dikatakan berjenis kelamin laki-laki namun senang membawa dompet merah dan seringkali berebut rok dengan Po. Ditambah lagi lambang segitiga di atas kepala dan warna ungu pada badannya merupakan lambang kaum homo
   Nah, saya jadi baru sadar kalau status "feels like a teletubbie" di Facebook itu jangan-jangan maksudnya merasa seperti homo (gubraaakkk). Anyway..busway... saya jadi berpikir saat itu, apa ya tayangan anak-anak yang benar-benar untuk anak. Tidak hanya berbentuk animasi tapi kontennya pun sesuai untuk anak. Sebab seperti kita tahu kalau mau ditelisik lebih jauh hampir semua tayangan yang terlihat cocok untuk anak-anak, pada dasarnya justru tidak baik secara konten. Paling gampang ambil saja contohnya shincan.
   Gawatnya lagi, banyak orangtua yang tidak paham akan hal ini. Kebanyakan mereka merasa aman-aman saja jika anak-anaknya nonton film kartun. Padahal tidak semua tayangan itu cocok untuk dikonsumsi anak mereka. Bahkan bisa jadi justru tayangan itu menanamkan nilai-nilai buruk bagi si anak tanpa disadari orangtuanya. Widih ngeri banget kan... So, paling bener adalah dampingi deh putra-putrinya saat menyaksikan tayangan apa pun. Apalagi dimasa-masa golden age alias usia 0-5 tahun daya serap anak sangat besar dan tanpa saringan. Nah, orangtuanya inilah yang menjadi saringan buat anak-anak mereka.